Nasihat

"Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya"

Sabtu, 03 September 2011

Hukum Sutrah Bagi Yang Shalat


  بسم الله الرحمن الرحيم

           Pertanyaan: Sesungguhnya saya menyaksikan sebagian pembimbing, masing-masing memasang sutrah (pembatas) di depannya di masjid dari kayu yang panjangnya sekitar setengah meter dan mereka berkata: Siapa yang tidak melakukan hal itu, ia berdosa. Saya katakan kepada mereka: Apabila saya tidak menemukan sutrah seperti yang kamu dirikan di depanmu ini? Mereka menjawab: harus, harus.
            Jawaban: Shalat menghadap sutrah hukumnya sunnah saat menetap dan safar, shalat fardhu dan sunnah, di masjid dan luar masjid, berdasarkan umumnya hadits:
قال رسول الله e : (إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا)
Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang darimu shalat maka hendaklah ia shalat menghadap sutrah dan mendekat darinya."[1] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang baik.
Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhum:
(أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رُكِّزَتْ لَهُ الْعَنَزَةُ فَتَقَدَّمَ وَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنَ يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ الْحِمَارُ وَالْكَلْبُ لاَيُمْنَعُ)
"Sesungguhnya ditancapkan tongkat untuk Nabi, lalu beliau maju dan shalat Zhuhur dua rekaat, lewat keledai dan anjing di depan beliau, tidak dilarang."[2]
Dan Muslim meriwayatkan dari hadits Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu’anhum, ia berkata:
قال رسول الله e : (إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذلِكَ)
Rasulullah bersabda: "Apabila seseorang dari kamu meletakkan di depannya (sutrah) seperti belakang tunggangan maka hendaklah ia shalat dan tidak perduli siapa yang lewat di belakangnya."[3]
            Disunnahkan baginya mendekati sutrahnya berdasarkan hadits yang disebutkan di atas. Para sahabat bersegera menuju tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah padanya, dan hal itu saat menetap, tidak safar. Akan tetapi tidak diriwayatkan dari mereka bahwa mereka memasang kayu/papan sebagai sutrah di masjid, namun mereka shalat ke dinding masjid dan tiang-tiangnya. Semestinya tidak perlu menyusahkan diri dalam hal itu. Syari'at itu mudah dan tidak ada seorang pun yang menyusahkan diri kecuali ia akan lelah sendirian. Dan karena perintah memakai sutrah adalah perintah sunnah, bukan wajib. Berdasarkan hadits yang menjelaskan 'Bahwa Nabi shalat bersama jamaah di Mina tanpa menghadap dinding (sutrah).'[4] Dan tidak disebutkan dalam hadits tersebut bahwa beliau memasang sutrah. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa`i dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhum, ia berkata: 'Rasulullah shalat di tanah lapang dan tidak ada sesuatu di hadapannya.'[5]
Wabillahi taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa 7/76-77.


[1] HR. Abu Daud 698, an-Nasa`i 749, Ibnu Majah 954, al-Hakim 1/252 (922), ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi.
[2]  HR. Al-Bukhari 495, Muslim 503, Abu Daud 688.
[3]  HR. Muslim 499, Abu Daud 587 dan at-Tirmidzi 307.
[4]  HR. Al-Bukhari 76, 493, 861 dan Muslim 504.
[5]  HR. Ahmad 1/224, Abu Ya'la 2601, ath-Thabrani dalam Ausath 3098, al-Baihaqi dalam al-Kubra 3294 dari hadits Ibnu Abbas t. Al-Haitsami berkata dalam Majma': Dalam sanadnya ada Hajjaj bin Arthah, ia dha'if.
Dan diriwayatkan pula semisalnya dari hadits Fadhl bin Abbas t: oleh imam Ahmad 1/211, 212, Abu Daud718, an-Nasa`i 753, Abu Ya'la 6726 dihasankan oleh al-Iraqi dalam Taqribul Asanid 2/347.

Jumat, 02 September 2011

KEMATIAN HATI

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat maksiat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1.500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktivis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan "Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya". Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ?

 Oleh: (alm) K.H. Rahmat ‘Abdullah

Kamis, 01 September 2011

Man Ana ?


Man Ana ?
Ditengah hiruk pikuk aktifitas manusia, yang perhiasan dunia menjadi obsesinya, pangkat dan jabatan menjadi orientasi hidupnya, apapun akan ia dilakukan demi tercapainya impian dan asanya, tak terbesit dihatinya tentang keabadian dan keindahan akhirat yang allah kabarkan.Walaupun diantara mereka ada yang mengaku dirinya sebagai muslim tetapi tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu apa itu islam, agama sekedar formalitas atau sebagai legalitas dalam berinteraksi pada suatu komunitas. Kehidupan yang penuh dengan canda tawa, berleha-leha, atau robot yang selalu bekerja tanpa adanya ruh ibadah kepadaNya atau ditengah para pemuda yang lebih asyik nongkrong dipinggir jalan daripada berdiam diri dimasjid atau melakukan aktifitas yang lebih bermanfaat. 
Man Ana?
Ditengah hinggar binggar kemajuan teknologi baik informasi maupun eletronik, yang memudahkan manusia dalam melakukan berbagai macam aktifitas, namun menjadi boomerang bagi kebanyakan orang, karena begitu asyiknya mereka menikmatinya, hingga lalai dari ibadah kepada Allah RobbNya, terlena, terbuai hingga akhirnya terhinakan.
Man Ana ?
Disekumpulan orang –orang yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah menyeru manusia kepada jalan keselamatan dunia dan akhirat berdasarkan al-Qur’an dan as-sunnah, tak kenal lelah dengan aktifitasnya yang padat, tak mengeluh atau resah dengan kebutuhan hidup sehari-hari, mencurahkan seluruh potensi untuk kemashlahatan dakwah dan umat. Mereka tetaplah manusia bukan malaikat, mereka bukanlah orang biasa tapi luar biasa karena mereka “lari” dari kebiasaan hidup orang banyak. Walaupun belum tentu mereka dapat menuai hasil panennya karena baginya yang terpenting adalah berkontribusi di dalamnya.
Man Ana ?
Disaat islam dinistakan, saat saudara-saudara kita sesama muslim tengah ditimpa penindasan dan kesengsaraan. Kemiskinan yang melanda mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia terutama Indonesia, yang parahnya bukan hanya miskin harta melainkan miskin jiwa atau keimanan pula, ditambah lagi hegemoni barat terhadap dunia islam : yang “memporak-porandakan” sistem pemerintahan, ekonomi dan perpolitikan, hanya ada dua pilihan : menjadi boneka atau diserang. Waa islamah…!!
Dimanakah kita diberbagai keadaan diatas?dimana posisi atau peran kita?apakah yang sedang kita lakukan?apakah termanggu, bertopang daku?atau “khusyu’” dalam buaian selimut?atau tidur di atas tumpukan buku?Atau malah menjadi pembual tanpa amal?
Saudaraku…
Pernahkah terlintas dialog diri semacam itu? sebuah kerisauan tentang eksistensi dan kontribusi diri dalam lingkup dakwah, li izzil islam wal muslimin?peran atau action apa yang  kita ambil dalam kancah dakwah?atau kita tidak pernah merasakan kerisauan tentang qadhaya umat islam, dekadensi moral, lebih dari itu hilangnya kekhilafahan, padahal kerisauan terhadap hal-hal itu semua adalah termasuk karateristik seorang da’I, ia risau : bagaimana memperbaiki permasalahan umat, mengembalikan izzah islam wal muslimin, mewujudkan kepemimpinan internasional umat islam, obsesinya bukan terfokus pada  permasalahan pribadinya semata, karena ia yakin Allah akan menolongnya selamanya ia berdakwah menegakan Agama Allah.
Saudaraku…
Apa  kita hanya menjadi penonton, dengan bermacam-macam karakternya : ada yang cuek atau apatis, ada yang hanya sekedar simpati dan empati : ikut sedih, gembira dan terharu ketika sejarah menuliskan kabar menyedihkan atau mengembirakan, ia hanya berda dipinggiran sejarah,  atau kita hanya menjadi komentator, seperti komentator dalam sebuah pertandingan, misalkan : sepak bola, ia mengomentari kelemahan para pemain walaupun belum tentu ia lebih lihai bermain dari yang dikomentarinya.
Saudaraku….
Belumlah terlambat untuk memulai gerakan, menyatukan langkah, persepsi dan orientasi. Peran apa yang akan kita ambil, jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang sangat dikhawatirkan sayyidina umar bin khoththob : ketidakberdayaan seorang tsiqoh (‘ajzuts-tsiqot) “ya allah aku berlindung kepadaMu dari keperkasaan(hegemoni) orang yang durhaka dan ketidakberdayaan seorang tsiqoh”. Kita mempunyai potensi yang belum “diledakan”. sejarah keemasan umat islam akan terulang manakala ruh yang membangkitkannya itu ada kembali, saat iman adalah saat kejayaan, saat kehancuran adalah saat hilangnya iman. Keimanan yang melahiran keshalihan pribadi dan sosial, bukan hanya keyakinan atau ritual semata.
Saudaraku…..
Belum beranikah kita mendeklarasikan diri sebagai seorang da’I ? da’I tidaklah berdakwah sendiri tapi ia berjama’ah, dan bukan segerombolan orang yang kumpul tak beraturan tanpa ada tujuan tapi geraknya terorganisir dengan baik bukan secara sporadis, tak pula bodoh justru ialah seorang yang faqih lagi tawadhu’ serta ia menjadi figur tauladan bagi yang lain seperti yang Allah firmankan setelah menceritakan kisah terbaik dalam al-qu’an ; kisah nabi yusuf : "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku [berdakwah] mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata [bashiroh], Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". Dan ia tidak pula berkarakteristik komprador, yang hanya mencari jalan aman dan keselamtan pribadi saja atau dan keluarga padahal tabiat dakwah adalah jalan yang panjang yang bertabur onak duri bukanlah jalan berhiasan permadani dan hanya sedikit orang yang mampu mengemban dan merealisasikan cita-cita tersebut.
Dan seorang da’i tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan bani israil kepada nabi musa : “pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja".
Ha_ana_dza, fa man antum....? Wallahu a’lam bishshowab

Rabu, 31 Agustus 2011

Memaknai kemenangan & Kejayaan

Pendahuluan
Dalam al-qur’an kemenangan itu dinamakan an-nashr dan alfath, sedangkan kata kemenangan itu sendiri tidaklah jauh berbeda makna dengan kata kejayaan & kesuksesan atau bahkan sama. Banyak orang menginginkan kemenangan, kejayaan dan kesuksesan  baik untuk pribadi maupun institusi atau organisasi yang ia geluti, dan tidak sedikit dari mereka yang stress atau bahkan bunuh diri manakala kenyataan mengabarkan hal yang bertentangan dengan apa yang ia dambakan dan rencanakan. Sebenarnya kalau kita coba teliti & renungi, apa hanya untuk itukah makna dan bentuk dari kata kemenangan yang kita rela jungkir balik tuk meraihnya? Sebuah ruang makna yang sempit untuk kata yang pada hakekatnya tidaklah sesempit itu, apalagi lembar sejarah manusia pun telah mengabarkan makna yang lebih luas dari kata kemenangan, tidak hanya sebatas penguasaan dan berkuasa di atas yang lain dikarenakan telah berhasil mengalahkannya, sehingga ia dikatakan sebagai seorang juara. Benar, tidak salah memahami dengan itu karena emang itulah makna asli dari kata kemenangan, dan itulah yang banyak dipahami oleh siapa aja yang mendengar kata kemenangan, tapi disini kita akan coba mengkajinya dengan tinjauan siroh nabawiyah dan juga rentetan sejarah dan peristiwa yang terjadi, bentuk-bentuk dari kemenangan yang Allah tunjukan dalam rentetan goresan sejarah.
Dan kita akan lebih mengaitkannya pada tashowwur da’awi, walaupun sebenarnya makna-makna ini bisa di kaitkan dengan berbagai gerakan, jamaah dan organisasi secara umum dengan berbagai macam orientasinya. Ini bukanlah bentuk dari menyenangkan diri dengan kekalahan yang di alami, tapi berusaha memahami dan merenungi hakekat taqdir yang telah ditetapkan illahi, meski tak sesuai dengan harapan & perencanaan pribadi. Oleh karena itu, kita sering mendengar ungkapan : ”kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”.
Dr.Muhammad ash-shalabi pun dalam bukunya ”fiqh kemenangan & kejayaan” menjelaskan beberapa makna/bentuk dari kemenangan, yaitu :
- kebebasan dalam berdakwah & sabar terhadap fitnah dan celaan orang yang mencela
- respon positif terhadap dakwah
- tertanamnya makna-makna besar/nilai-nilai fitrah dalam hati manusia
- kehancuran kaum yang mendustakan

Makna Kemenangan
Dan disini kita akan coba paparkan makna & bentuk dari kemenangan yang harus kita pahami, yang mungkin akan ada kesamaan dengan apa yang dipaparkan Dr.Muhammad ash-shalabi tadi, baik secara redaksi maupun substansi, karena pada intinya tulisan-tulisan tentang ini bertujuan untuk memupus keputus asaan dan menumbuhkan rasa percaya diri setelah kukungan masalah / frame berpikir madesu (masa depan suram) yang di alami :
  1.  As-Sulthoh wa As-Siyadah ( Kekuasaan & Kepemimpinan )
Kekuasaan dan otoritas kepemimpinan, ini adalah makna yang lazim dipahami orang dari kata kemenangan, makna ini dapat terwujud dengan adanya pihak yang terkalahkan ataupun menyerahkan diri, baik karena kelemahan ataupun ketundukan/keridhoan. Makna kemenangan inilah yang tunjukan pada peristiwa fathu mekkah, dimana rosulullah dan para sahabatnya berhasil membebaskan kota mekah dari berhala-berhala kemusyrikan, kaum quraisy pun tunduk & menyerah kepada kaum muslimin, dan para pembesar mereka pun lari bersembunyi menyelamatkan diri karena takut dibunuh oleh kaum muslimin, karena emang begitulah tabiat yang berlaku bagi para pemenang perang atas kekalahan musuhnya, sebagaimana perkataan ratu balqis ketika disampaikan kepadanya surat dari nabi sulaiman, yang allah lukiskan kisahnya dengan di abadikan dalam al-qur’an : ”Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".......... (ratu balqis berkata) : ”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat ”. (QS.Annaml : 30, 31, 53 )
Akan tetapi, kebijakan yang rosulullah ambil adalah  yang dipraktekkan oleh nabi yusuf terhadap saudara-saudaranya yang dulu telah mencelakainya dengan menceburkannya ke dalam subur : ”Yusuf berkata: "Pada hari Ini tak ada cercaan terhadap kamu, Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS.Yusuf : 92)
 
  2. Al-Qiyam ba’da al-hazimah ( Bangkit Setelah Kekalahan )
Sesaat setelah rosul dan para sahabat sampai dimadinah dan beristirahat sebentar, sehabis perang melawan kaum quraisy di bukit uhud,  turunlah perintah untuk kembali mengangkat senjata melawan pasukan quraisy yang telah memporak-pondakan barisan kaum muslimin, padahal kondisi kaum muslimin ketika itu sedang down dan amat sangat kelelahan sehabis perang uhud, yang di dalamnya banyak syuhada berguguran, dan memberikan banyak ibroh dan pelajaran tantang hakekat perjuangan dan kemenangan. Itulah pembelajaran secara langsung dari allah kepada umat nabi muhammad saw tentang taktik berperang, taktik menuai kemenangan pasca kekalahan, yaitu dengan bangkit kembali menggertak musuh
  3. At-Ta’tsir wa Al-Haimanah ( Pengaruh & Hegemoni )
Mempengaruhi adalah kepribadian seorang pemimpin, meskipun mempengaruhi tidaklah mesti memiliki kekuasaan dan otoritas. Contoh pada awal dakwah islam di mekah, jumlah orang islam memang sedikit dan banyak disiksa & di intimidasi, tapi orang-orang kafir malah ketakutan dan pusing sendiri karena merasa tersaingi.. artinya umat sebenarnya sudah menang.. apalagi ditambah lagi dengan kekalahan perang badar, yang merupakan pukulan telak dan nyata kekalahan orang-prang kafir.
Contoh lain yang lebih ke-kinian adalah hegemoni dan monopoli amerika terhadap negara-negara merdeka seperti indonesia sangatlah terasa, di bidang ekonomi, makanan, life style, bahkan frame berfikir, mereka tidaklah secara terang-terangan menjajah suatu kaum atau menguaasai secara otoritas tapi mereka seolah berkuasa dikaranakan pengaruh dan hegemomoni nya yang begitu kuat.
  4. Itsbatul Wujud ( Eksistensi Diri )
Manakala sebuah jamaah atau gerakan itu tetap eksis dan bahkan sudah mulai di akui dan diperhitungkan oleh para pesaingnya, setelah gelombang badai ujian dan tribulasi dengan berbagai mcam bentuknya senantiasa bergulir dan mennghantam gerak laju jamaah tersebut, maka itu juga bentuk kemenangan yang Allah berikan yang harus disyukuri, dan sebaliknya, belum tentu ”posisi”strategis pemerintahan yang telah di dapatkan merupakan anugerah Allah baginya, karena bisa jadi itulah ujian ataupun awal mushibah baginya, Allah berfirman : ”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata: "Tuhanku Telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". [QS. Al-Fajr : 15 – 16]
Karenanya hendaklah kita bersikap seperti Nabi Sulaiman AS yang terlukiskan dalam Al-Quran : ”Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". [QS. An-Naml : 19]
Dan Beliau pun tak sombong dan terperdaya dengan sanjungan, pujian dan jabatan yang di amanhkan kepadanya,  ”iapun berkata: "Ini termasuk anugerah Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".[QS. An-Naml : 40]

  5. Nasyrul Fikroh ( Penyebaran Fikroh )
Memang pada masa periode mekkah, kaum muslimin adalah kaum tertindas, di anggap sebagai golongan strata sosial terendah, tapi apa yang terjadi? fikroh dakwah islam justru tersebar luas seantero jazirah arab, dan itulah titik tolak dan kunci menuju kemenangan dakwah, ternyata penindasan dan penderitaan yang di alami kaum muslimin menimbulkan tanda tanya besar, mengapa begitu teguh mereka meyakini apa-apa yang disampaikan oleh muhammad? Dari situlah kemudian fikroh dakwah masuk ke relung hati umat manusia yang masih merindukan tuk kembali kepada kefitrahan diri, yang tak terkuasai oleh hawa nafsu dan gengsi. Itulah salah satu bukti dari firman Allah : ”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. [QS.Alam Nasyor : 5 – 6]
  6. Wujud Taghyir Al-Ummah Ilal Ishlah ( Adanya Perubahan Menuju Kebaikan )
”Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun...
Perubahan adalah sebuah kepastian, perubahan dari kesyirikan menuju mengesakan Allah, perubahan dari perhambaan kepada manusia menuju perhambaan kepada Robb manusia, perubahan dari  kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat, perubahan dari kezaliman hukum manusia menuju keadilan hukum islam. Namun perubahan tak kan datang dengan sendirinya, tapi melalui usaha dan doa kepada yang Maha Kuasa dan Pembolak-balik hati manusia. Bukankah setelah di usir dan dinistakan dari thaif Nabi Muhammad justru berdoa : Ya Robbi ampuni kaumku karena mereka adalah kaum yang mengetahui hakekat dakwah ini, dan jadikanlah anak keturuna mereka beriman kepadaMu... (setidaknya itulah maksud dari doa Beliau, meski redaksinya tidaklah sama), padahal malaikat telah menawarkan diri untuk menimpakan gunung kepada kaum tersebut.


Penutup
Akhir kata, kita harus menyadari bahwa kemenangan-kemenangan yang telah diraih terutama dalam hal da’awi haruslah kita syukuri dan kita kembali semua hnya kepada alla’la haula wa laa quwwata illa billah’, sebagaimana wasiat umar bin khaththab ketika memberangkatkan pasukan kaumj muslimin tuk menaklukan persia : “sesungguhnya kemengangn yang telah diraih oleh kaum muslimin bukanlah dikarenakan personil pasukan yang berjumlah banyak atau persenjenjataan yang canggih atapun yang lainnya, akan tetapi semua itu dikarenakn ketqwaan kalian semua dan kaum muslimin, sehingga allah berkenan menganugerahkan kita sebagai seorang pemenang” bukankah dalam al-qur’an alla berfirman :’intansuullah yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum’?!
Maka dari itu kita semua harus menyingsingkan lengan baju dan menarik nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatan guna mewujudkan kejayaan islam yang dulu pernah tertorehkan pada lembaran sejarah peradaban manusia, dan kejayaan akan kembali terulang manakala umat islam senanatiasa bersungguh-sungguh meretas jalan dan strategi yang telah Allah tunjukkan, Dia berfirman : ”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian, dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dibumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah diridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun...” [An-Nur : 55]

fasabbih bihamdi robbika was taghfirhu, innahu kaana tawwaba.....


Senin, 29 Agustus 2011

'AMAL JAMA'I


Di atas tumpuan batang pohon pinang yang kokoh nan tinggi menjulang, yang berhiaskan hadiah-hadiah, dan hembusan angin yang menyibakkan kesejukan pada tubuh yang kelelahan, menghilangkan jutaan peluh keringat yang menghiasai, seorang pemuda berteriak-teriak penuh semangat : Allahu akbar…!Hore..!Yuoo…! setelah sebelumnya kesusahan dan kelelahan yang ia lalui. ini adalah luapan ungkapan kegembiran dan kemenangan yang telah ia raih bersama kawan-kawannya, dan ditengah kegembiraanya itu ia pun tak lupa untuk melemparkan hadiah-hadiah yang telah disediakan panitia kepada kawan-kawannya yang berada di  bawah…
Itulah sekilas kisah happy ending yang dialami oleh sekelompok pemuda yang berjuang bersama-sama meraih asa mereka yang tergantung pada ujung pohon pinang yang telah dilumuri oli itu, meski kesulitan dan kelelahan menerpa serta “perlawanan”dari para pesaing mereka yang juga menginginkan itu, tak jua menyurutkan tekad mereka untuk terus berusaha meraih asa tersebut.
Saudaraku…
Rangkaian peristiwa yang di alami sekelompok pemuda tadi ataupun para pesaingnya adalah sebuah gambaran yang dapat mewakili makna dari amal jama’i. dalam beramal jama’i kita tidak hanya dituntut untuk sama-sama bekerja saja ataupun bekerja sama-sama, tapi kedua hal tersebut haruslah terkandung dalam amal jama’i sebuah jama’ah, sehingga yang tercipta adalah kesolidan jama’ah tersebut, dan dengan kesolidan itulah mereka merumuskan gerak yang teratur, pada akhirnya asa yang diimpikan dapat terwujud dengan mudahnya, walaupun sebenarnya banyak sekali rintangan yang telah lalui bersama, tapi itu semua telah hilang dengan seketika dari ingatannya manakala rasa sukacita atas keberhasilan dan kemenangan telah menyapanya.
Mereka telah membuktikan bahwa mereka sama-sama bekerja : ada yang jadi komandan, ada yang jadi penopaang, ada yang jadi pengambil hadiah, ada yang membantu mengangkat kawannya,dsb. Mereka pun telah bekerja sama-sama dalam satu waktu, dengan posisi masing-masing. Coba bayangkan bila semuanya ingin memberi komandan, tentu tidak ada yang mau naik bergumul dengan oli yang hitam lagi pekat, atau semua ingin bergerak tentu tidak mungkin bisa membangun sebuah bangunan kokoh yang dapat membantu dalam meraih asa, karena yang bertugas menjadi pondasi pun tak mau hanya diam, berat!
Saudaraku…
Tentunya kesatuan gerak dan komitmen untuk beramal jama’i tak akan tercipta bila kita masih belum satu visi, asa dan obsesi serta pemahaman yang utuh atas posisi yang di emban dan konsekuensinya. Dan rasa tsiqoh pun diperlukan dalam beramal jama’i, apa jadinya bila sekelompok pemuda tadi bila mereka tidak saling mempercayai?! Komandan tidak ditaati, sifat individualis, perfectionis pun bermekaran pada tiap individu dalam kelompok tadi.
Pada akhirnya kita pun harus menyadari, bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa oarng-orang sekitar kita, tak mungkin kita bisa meraih asa tersebut tanpa dukungan dan bantuan sahabat-sahabat kita, dan keberhasilan yang telah diraih bersama-sama bukanlah atas jerih payah kita pribadi, sehingga muncul rasa bangga dan merasa paling berjasa dan berprestasi atas semua yang terjadi, na’udzubillah min dzalik
Dan juga, adalah sebuah hal yang mustahil bila seseorang dapat meraih hadiah di ujung pohon pinang tersebut hanya seorang diri,itu namannya berkhayal.
“dan janganlah kalian saling berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah…”
Akhiru da’wana anilhamdulillahi robbil ‘alamin...