Nasihat

"Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya"

Rabu, 28 September 2011

Ramadhan & Sirah Nabawwiyah 1 : Ramadhan, tonggak perubahan sejarah dunia

Segalanya Berawal dari Ramadhan
Ramadhan adalah bulan suci yang diberkahi. Banyak peristiwa agung yang terjadi di bulan ini. Peristiwa-peristiwa tersebut menandai babak baru sejarah Islam dalam menyebarkan rahmatnya ke seluruh dunia. Di bulan ini, kaum muslimin perlu memutar ulang slide episode demi episode peristiwa agung tersebut. Dengan begitu, nuansa ibadah semakin khusyu’ karena menghayati latar belakang dan proses terjadinya peristiwa yang bersejarah tersebut.
Peristiwa agung pertama yang mengawali rangkaian panjang dakwah Islam di muka bumi adalah peristiwa gua Hira’. Di bulan Ramadhan, saat Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi Al-Qurasyi sedang menyendiri dalam tafakur di gua Hira’, Allah SWT mengutus malaikat Jibril kepadanya. Itulah saat wahyu pertama turun, surat Al-‘Alaq 1-5.
Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shidiq RA menuturkan:
“أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إِلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ.. ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ؛ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : اقْرَأْ ! قَالَ  : “مَا أَنَا بِقَارِئٍ “،  قَالَ : ” فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي،  فَقَالَ: اقْرَأْ ! قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ ! فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي ، فَقَالَ :  اقْرَأْ ! فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ :
“Awal mula wahyu yang diberikan kepada Rasulullah  SAW adalah mimpi yang benar. Setiap kali mengalami mimpi, mimpi itu datang dalam wujud seperti cahaya fajar yang merekah. Sejak itulah, beliau senang menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira’ selama beberapa malam untuk bertahanuts, yaitu beribadah, sebelum beliau kembali kepada keluarganya untuk mengambil bekal. Beliau lalu kembali kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil bekal.
Beliau melakukan hal itu sampai datang kepadanya kebenaran di gua Hira’. Malaikat datang kepadanya dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab, ”Aku tidak bisa membaca.”Beliau bercerita: “Ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Maka ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk kedua kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Maka ia kembali menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk ketiga kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata:
 ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ… )
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.
Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq (96): 1-5)
(HR. Bukhari:Kitab bad-il wahyi, no. 3)
Demikianlah, semuanya berawal dari tafakkur..merenungkan keadaan masyarakat yang sesat…merenungkan hakekat manusia dan tujuan hidupnya…merenungkan petunjuk hidup yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagian hidup dan menyelamatkan mereka dari kesesatan.
Lalu, pekerjaan pertama adalah ta’abbud…menyendiri di gua Hira’, melalui siang dan malam dalam perenungan, penyerahan diri, dan pengabdian kepada Rabb, Sang Pencipta alam semesta. Beliau meninggalkan hiruk-pikuk aktivitas duniawi untuk mendekatkan diri kepara Rabb SWT, memohon petunjuk, dan berlindung kepada-Nya dari kesesatan masyarakat sekitarnya.
Maka, kalimat wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra’…bacalah! Bacalah ayat-ayat Allah SWT di alam semesta! Bacalah ayat-ayat Allah SWT yang berupa wahtu syariat-Nya! Bacalah dengan menyebut nama Rabb SWT…mintalah berkah dan pertolongan dengan menyebut nama-Nya semata! Dia-lah Yang telah menciptakan umat manusia dari segumpal darah yang menggantung di dinding rahim. Dia-lah Yang Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dengan kepemurahan-Nya, Dia memandaikan manusia lewat proses belajar; membaca dan menulis.
Dalam ‘dapur’ tafakkur, ta’abbud, dan qira’ah; Allah SWT ‘mengolah’ para mushlihun (orang-orang shalih yang membina umat manusia menuju jalan Allah SWT). Allah SWT menggembleng mereka untuk menjadi tauladan kehidupan. Allah SWT membina mereka untuk sanggup mengemban beban dakwah, irsyad, dan jihad. Allah SWT mencetak mereka menjadi pelita yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. 
Allah SWT menguatkan jiwa mereka dengan ta’abbud pada masjid…
Allah SWT menyucikan fikiran mereka dengan khulwah, menyendiri di keheningan sepertiga malam terakhir untuk tafakkur…
Allah SWT meningkatkan ilmu dan wawasan mereka lewat halaqah-halaqah qira’ah…
Setiap muslim membutuhkan tiga waktu khusus dalam kehidupan hariannya:
  • Satu waktu untuk menyendiri dengan Rabbnya dalam tafakkur, muhasabah, istighfar, dan taubat.
  • Satu waktu untuk beribadah kepada-Nya dengan shalat wajib, qiyamul lail, shiyam Ramadhan, dst…
  • Satu waktu untuk meningkatkan ilmu dan wawasannya dengan menghadiri majlis ilmu atau menelaah buku…membaca, menulis, meringkas, dst…
Tafakkur akan menjernihkan pikiran, ibadah akan mensucikan jiwa, dan belajar akan meningkatkan peran akal. Semua aktifitas tersebut merupakan unsur yang sangat urgen bagi kemajuan hidup manusia…bekal seorang muslim dalam mengemban tugas hidupnya…dan pemicu semangat seorang dai dalam menyebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia.
Setiap kali bekal makanan habis, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah. Beliau lalu kembali dengan bekal yang cukup. Beliau berjalan sendirian ke gua Hira’, mendaki gunung yang terjal berbatu tajam, merasakan teriknya panas siang hari dan bekunya hawa dingin malam hari. Beliau bertahan beberapa hari dalam kesunyian gua yang mencekam.
Untuk apa beliau bersusah payah melakukan semua itu?
Untuk tafakkur…ta’abbud…dan qira’ah
Jadi, ketiga aktifitas ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengerahkan segala usaha dan kemampuan terbaik. Maha Benar Allah Yang berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَ إِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad (beramal bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut (29): 69)
Saudaraku seislam dan seiman…Pertanyaannya kini adalah, sudahkah kita mengkhususkan tiga waktu khusus untuk tiga aktifitas ini dalam bulan yang penuh berkah ini? Jika sudah, maka pujilah Allah SWT. Jika belum, segeralah memperbaiki diri dan mempergunakan kesempatan selagi ada.
Wallahu a’lam bish-shawab.     
Serial Risalah Ramadhan / Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1
Oleh: Muhib al-Majdi
http://www.arrahmah.com
filter your mind, get the truth

5 Hak al-qur'an

“Ki, bukankah Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita ki?” Tanya Maula.
“Benar Nak Mas, bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘tidak ada keraguan di dalamnya’ sebagai petunjuk orang-orang mutaqin.” Jawab Ki Bijak, sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."(QS. Al-Baqarah [2] : 2)
“Lalu kenapa masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi masih banyak di antara kita yang masih kelimpungan mencari petunjuk lain selain Al-Qur’an, apanya yang salah ki?” Tanya Maula.
“Tidak ada yang salah bagi kita yang rajin dan pandai membaca Al-Qur’an, dan jika kita belum menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk, itu karena kita belum menunaikan hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Hak-hak Al-Qur’an ki?” Tanya Maula
“Benar Nak Mas, kadang kita terlalu sibuk menuntut Al-Qur’an sebagai ini dan itu, sementara hak-nya tidak pernah kita hiraukan.”
“Al-Qur’an juga mempunyai hak atas kita, yang jika hak-hak Al-Qur’an itu kita tunaikan, insya Allah, kita akan benar-benar mendapati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an akan menjadi rahmat dan pemberi syafaat bagi kita di yaumil akhir nanti.” Sambung Ki Bijak.
“Apa saja hak-hak Al-Qur’an atas kita ki?” Tanya Maula.
“Setidaknya ada lima hak Al-Qur’an yang harus kita tunaikan, yang pertama, hak Al-Qur’an atas kita adalah dibaca sesuai dengan ketentuan tajwid dan makhroj-nya.” Kata Ki Bijak.
“Alhamdulillah, kalau sekarang ini banyak metode pembelajaran Al qu’ran yang bagus, yang bisa dengan cepat mengajar kita untuk bisa baca Al-Qur’an, hanya kadang sebagian kita kurang terlalu peduli dengan kaidah-kaidah baca Al-Qur’an yang benar, sehingga keagungan bacaan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, menjadi kurang tampak, dan bahkan bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an tidak lebih penting dari membaca koran, ini yang harus kita perbaiki, sebagai salah satu langkah kita untuk memenuhi hak Al-Qur’an atas kita, baca Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.” Kata Ki Bijak.
“Lalu hak Al-Qur’an yang kedua atas kita apa ki?” Tanya Maula.
“Setelah kita bisa membaca Al-Qur’an, maka akan timbul hak Al-Qur’an yang kedua, yaitu memahami artinya, baik arti secara harfiah, maupun arti maknawi (tafsir)-nya.” Kata Ki Bijak.
“Nak Mas masih ingat, apa saja yang terkandung dalam Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.
“Ya ki, secara garis besar, Al-Qur’an mengandung pelajaran ketauhidan, kisah-kisah bangsa terdahulu serta hukum-hukum atau syari’at.” Jawab Maula,
“Karenanya, kita harus benar-benar memahami apa arti bacaan Al-Qur’an, agar kita bisa melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an serta menjauhi apa yang dilarang Allah seperti tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,”
“Atau bagaimana mungkin kita bisa menjadikan kisah-kisah bangsa terdahulu yang diterangkan Al-Qur’an sementara kita tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Qur’an? untuk itulah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah mengerti dan memahami arti dan maknanya.” Kata Ki Bijak.
Maula manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya, “Yang ketiga ki?” Tanyanya kemudian.
“Hak Al-Qur’an yang ketiga adalah dihapal.” Kata Ki Bijak.
“Nak Mas masih ingat dengan hadits yang menunjukan keistimewaan orang yang hapal Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.
“Ya ki, dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qur’an-nya’,”
“Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW, ‘Berapa banyak Al-Qur’an yang telah engkau hapal, hai fulan?’ ia menjawab, ‘aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.’ Rasulullah SAW kembali bertanya, ‘Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?’ Ia menjawab, ‘Betul.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!’.” Kata Maula mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmizi.
“Benar Nak Mas, itu salah satunya, dan masih banyak lagi hadits yang menyatakan betapa orang yang di dalam dadanya hapal Al-Qur’an, mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya, seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata, “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,” kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta, “Wahai Tuhanku tambahkanlah,” maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi, “Wahai Tuhanku, ridhailah dia,” maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, “bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga),” dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nimat dan kebaikan’.” Kata Ki Bijak.
“Selanjutnya, Al-Qur’an mempunyai hak atas kita untuk diamalkan, bacaan yang bagus, pemahaman arti yang baik, dan hapalan yang banyak, tidak boleh lantas menjadikan kita bangga diri, karena bacaan, arti dan hapalan yang tidak disertai dengan pengamalan yang baik dan benar, laksana pohon rindang tanpa buah, tak banyak memberikan manfaat pada orang yang memilikinya.” Kata Ki Bijak.
“Bahkan menurut hemat Aki, pengamalan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Qur’an merupakan hal terpenting dalam upaya kita memenuhi hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak lagi.
“Ki, kalau ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an bagaimana ki?” Tanya Maula.
“Benar, ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an meski ia tidak bisa membacanya, tapi itu sama sekali tidak berarti menggugurkan kewajibannya untuk belajar membaca Al-Qur’an, belajar memahami artinya, belajar menghapalnya, karena kewajiban tetaplah kewajiban, yang harus ditunaikan, dan insya Allah, mereka yang sudah melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an sebelum bisa membacanya, akan menjadi lebih baik lagi pengamalan Al-Qur’anya kalau ditambah dengan membaca, mengerti dan menghapal Al-Qur’an dengan baik.” kata Ki Bijak.
“Selanjutnya, mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan sebuah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita laksanakan, ajarkan apa yang kita mampu, walaupun hanya satu ayat.” Kata Ki Bijak.
“Buah yang matang dan ranum, tidak akan dapat dirasakan manis dan nikmatnya jika hanya dibiarkan menggantung diketinggian pohonnya, untuk itu, buah itu harus kita petik dan kita sampaikan, agar orang lain bisa menikmati manis dan lezatnya buah yang kita hasilkan.” Kata Ki Bijak.
“Ki, setelah mendengar penjelasan Aki tadi, ana merasa, ana masih punya banyak ‘hutang’ terhadap Al-Qur’an ki, bacaan Al-Qur’an ana masih banyak kurangnya, pemahaman ana terhadap Al-Qur’anpun masih sedemikian dangkal, apalagi menghapal dan mengamalkannya, ana merasa masih sangat-sangat jauh ki.” Kata Maula.
“Aki-pun demikian Nak Mas, masih banyak hak-hak Al-Qur’an yang belum bisa Aki penuhi seluruhnya, tapi setidaknya mulai sekarang, marilah kita kembali buka dan pelajari lagi Al-Qur’an, agar kita tidak termasuk orang yang dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.” kata Ki Bijak merendah.
“Ki, adakah kiat yang bisa ana pakai untuk bisa belajar Al-Qur’an dengan benar ki.” Tanya Maula.
“Setiap orang, memiliki cara dan kekhususan tersendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, setiap orang mungkin berbeda cara belajarnya, namun setidaknya kita harus memiliki beberapa hal mendasar sebagai modal kita untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Apa saja modal dasar itu, ki?” Tanya Maula.
“Pertama, Niat dan komitmen yang kuat, niatkan belajar kita lillahi ta’ala, hanya semata karena mengharap ridha-Nya, kemudian, tanamkan dalam diri kita sebuah komitmen yang tinggi untuk benar-benar belajar dan mempelajari Al-Qur’an.”
“Kedua, tanamkan selalu sifat rendah hati, sifat tawadlu, agar kita tidak cepat merasa bosan atau cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari.”
“Ketiga, belajarlah terus menerus dengan penuh kesungguhan.”
“Keempat, amalkan apa yang sudah kita pelajari, misalkan kita sudah belajar baca bismillah, pahami apa arti dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian amalkan dalam keseharian kita, bahwa tidak ada satupun aktivitas kita yang lepas dari memohon pertologan kepada Allah, yaitu dengan membaca Bismilllah.”
“Selanjutnya, untuk membantu proses belajar kita, ajarkan apa yang sudah kita pahami, proses ini akan membantu ingatan kita terhadap apa yang telah kita dapat, dengan mengajarkan, secara otomatis kita selalu mengulang-ulang pelajaran yang sama, sehingga tingkat pemahaman dan belajar kita insya Allah menjadi lebih baik.”
“Kemudian, kalau lima proses diatas sudah kita lakukan dengan benar, maka kita akan memiliki karakter.” kata Ki Bijak
“Apa cirinya kita sudah memiliki karakter ki?” Tanya Maula
“Cirinya, kita akan merasa rugi kalau sehari saja kita tidak baca Al-Qur’an,kita akan merasa kehilangan, kalau sehari saja kita tidak buka Al-Qur’an, atau kita akan merasa bersedih karena kehilangan momentun belajar Al-Qur’an, setiap hari, setiap saat dan setiap detik, orang yang memiliki karakter ini akan menunjukan semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Alangkah bahagianya mereka yang sudah memiliki karakter seperti itu ya ki.” Kata Maula.
“Ya, berbahagialah orang yang memiliki karakter positif seperti itu, sebaliknya kita mesti berhati-hati kalau justru karakter negatif secara tidak sengaja menempel pada diri kita.” Kata Ki Bijak.
“Contohnya apa ki?” Tanya Maula.
“Menunda waktu shalat, kadang juga merupakan menjadi ciri atau karakter seseorang, sehingga kalau ia shalat tepat waktu, malah merasa rugi dan terganggu.”
“Kemudian lagi kebiasaan mencela, juga bisa jadi karakter seseorang, sehingga kalau belum mencela, rasanya gatal, dan lain sebagainya.” Kata Ki Bijak memperingatkan Maula untuk berhati-hati.
“Ya ki, semoga ana bisa memiliki karakter positif dan semoga pula ana terhindar dari karakter negatif tadi ya ki.” Kata Maula.
“Semoga Nak Mas.” Kata Ki Bijak.

sumber : eramuslim.com

ANASIR KEMENANGAN

“ Dan orang-orang kafir berkata : janganlah kamu mendengarkan bacaan al-qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan mereka “
[ QS. Fushshilat : 26 ]

Kalau kita renungi sejenak, dari ayat ini kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya faktor utama bagi umat islam untuk meraih kemenangan adalah dengan senantiasa berpegang teguh dengan al-qur’an, yang merupakan marja’ asasi ajaran islam yang integral dan komprehensif ini, yang dimana dengan keteguhan tersebut itulah merupakan faktor terbesar umat islam dalam meraih kejayaan dan eksistensinya di atas musuh-musuh Allah swt., dan tentunya keteguhan tersebut tak akan pernah lahir kecuali dengan kita melakukan interaksi yang intens dengan al-qur’an. Faktor utamanya bukanlah karena banyaknya personil pasukan dan kehandalannya atau canggihnya teknologi persenjataannya, sebagaimana yang di ungkapkan oleh umar bin khoththob sebelum memberangkatkan pasukan islam melawan tentara Persia, beliau mengingatkan tentang faktor hakiki dari kemenangan yang senantiasa diraih kaum muslimin adalah : “…dikarenakan ketaqwaan kalian…”.

Ini bukanlah sebuah kajian tafsir, tapi hanya sekedar mencoba untuk mentadabburi firman Allah tersebut, ini bukanlah pelajaran yang sekedar  untuk dihafal & dipahami tapi ini memerlukan realisasi & pengejawantahannya di kehidupan sehari-hari, ini bukanlah sekedar kabar yang hanya untuk didengar melainkan sebuah intruksi illahi, agar para hambaNya menyadari makar-makar musuh & menambah keimanan dengan kemu’jizatan al-quran tersebut. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. Dan karenanya mereka menjadi tidak takut ataupun gentar atas ancaman orang-orang kafir “orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung".

Dan sebaliknya, ini juga yang dijadikan oleh orang-orang kafir sebagai senjata untuk mengalahkan umat islam yaitu dengan menyerukan kaumnya untuk membuat makar agar umat islam jauh dari al-qur’an & juga mewanti-wanti mereka untuk tidak mendengarkan & mempelajari alqur’an. dikarenakan hanya dengan mendengarkan ayat-ayat suci alqur’an saja, itu sudah memberikan efek magic terhadap jiwa seseorang. bahkan bagi yang tidak bisa bahasa arab pun bisa merasakan efek magic tersebut, apalagi bagi yang bisa bahasa arab & memahami makna ayat tersebut?!

Maka tak mengherankan jika Abul hasan ali an-nadawi pernah mengatakan “saat kejayaan adalah saat iman, saat kemunduran & kehancuran adalah saat hilangnya iman”, karena dengan tingginya intensitas seorang muslim dengan al-qur’an akan melahirkan keimanan yang senantiasa bergelora & terpatri dalam jiwa. Karena iman lah yang menggerakkan raga tuk berdakwah menegakkan agama Allah dimuka bumi, karena iman lah yang melahirkan bashiroh & totalitas dalam berdakwah, karena iman lah yang mengarahkan orientasi perjuangan kita agar tidak sia-sia, karena iman lah yang menyebabkan melimpahnya curahan rahmat dan berkah allah swt serta kemenangan bagi kaum muslimin sejak dulu hingga sekarang, itulah keajaiban iman. yang tentang keajaibannya telah terbukti selama 14 abad yang lalu, adakah itu akan terulang kembali?!atau hanya akan menjadi nostalgia masa lalu umat islam?!

Dikarenakan tingginya intensitas interaksi setiap muslim dengan al-qur’an itulah yang menjadikannya umat islam menjadi umat terbaik, dan inilah salah satu sudut pandang yang bisa kita pahami dari sabda rosulullah : “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya”, hanya umat yang terbaik lah yang Allah beri anugerah & kemuliaan, dan hanya umat yang terburuk lah yang Allah beri kehinaan & keterpurukan. Adapun yang dimaksud interaksi dengan al-qur’an disini bukanlah sekedar membacanya dengan tahsin, akan tetapi disertai tahfizh, tadabbur, ta’lim, tabligh dan juga mengamalannya ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan individu muslim itu sebagai al-qur’an yang berjalan, bukan berjalan bersama al-qur’an saja. Dengan interaksi yang semacam itulah, insya Allah akan melahirkan keimanan yang terpatri dalam hati, yang menerangi & menggelorakan jiwa, yang menghidupkan ruh kejayaan islam dan yang melahirkan ketaqwaan, ”kejayaan & Izzah suatu kaum akan kembali terulang manakala ruh yang menghidupkannya  itu hadir kembali”.

Meskipun sebenarnya kondisi ini pun telah dikabarkan Allah swt dalam firmanNya : “Dan rosul (muhammad) berkata : wahai Robbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-qur’an ini di abaikan”. yaitu ketika musik lebih akrab ditelinga kita dibandingkan lantunan ayat suci al-qur’an, ketika lidah terasa lebih kelu dan susah membaca al-qur’an dibandingkan mendendangkan sebuah lagu, ketika ayat-ayat al-qur’an yang dibaca terasa hampa dan tidak bermakna dalam memberikan nutrisi bagi cahaya iman yang semakin redup, sehingga tidak melahirkan keajaiban iman yang tertorehkan dalam lembaran sejarah, ketika waktu yang disediakan untuk olahraga, menonton televisi, internet, dsb lebih banyak daripada waktu untuk khusyuk bercengkrama dengan kalam Illahi, ketika al-qur’an hanya sekedar menjadi pajangan & hiasan dilemari, ketika semua itu terjadi berarti pertanda bahwa secara perlahan namun pasti al-qur’an akan segera hilang dari dada umat islam, yang ada hanyalah tumpukan lembaran kertas yang berisi kalam Illahi yang tersusun dalam mushaf, hingga umat islam pun tidak punya izzah dan kekuatan.

Dan inilah strategi jitu yang dilakukan musuh-musuh Allah setelah kekalahan telak mereka diperang salib, mereka tak lagi menggunakan kekuatan fisik melainkan dengan strategi menjauhkan alqur’an dari kaum muslimin, strategi perang ini biasa disebut dengan ghozwul fikri, yang salah satu agendanya adalah melahirkan para orientalis untuk membiaskan pemahaman tentang islam dari internal umat islam itu sendiri, begitu juga dengan penyebaran budaya atau life style ala barat, dsb. Mereka memahami sekali tentang ini, sedangkan umat islam justru malah terbuai dan terlena dengan dunia dan tidak menyadari makar-makar musuh-musuh Allah, waa muslimuuh..!

Utsman bin affan pernah mengatakan : ”seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah kenyang untuk berinteraksi dengan kitabullah (al-qur’an)”, adakah kita merasakan keadaan tersebut? adakah kita dalam membaca al-qur’an bagaikan membaca novel, yang tidak mau terputus waktu membacanya meski sedetik dan bahkan mata pun tak mau berkedip? adakah getar-getar kenikmatan & kelezatan ketika membaca al-qur’an? atau hanya sekedar rutinitas & mengejar target belaka?

Pada akhirnya, apapun yang terjadi pada saat ini, kita harus tetap meyakini bahwa  kemenangan itu pasti akan kembali diraih umat islam, bahwa masa depan adalah milik umat islam, tapi kapan dan siapa yang akan mengusungnya? itu tergantung dari kapankah umat islam siap untuk menerima dan memikul amanah kemenangan yang telah dijanjikan, adakah yang siap mengemban itu & totalitas dalam meraihnya?! Dan tidak boleh dilupakan pula akan  faktor kemenangan terpenting yang harus ada, yaitu adanya interaksi yang intens umat islam dengan al-qur’an dan berpegang teguh dengan apa-apa yang ada di dalam nya.

Dari membaca & mempelajari al-qur’an akan lahir pemahaman & bashiroh, kemudian dari sanalah akan lahir keyakinan & keikhlasan, dan dari keyakinan & keikhlasan itulah akan melahirkan ‘amal & totalitas dalam berdakwah. Dan akhir kata “intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum”. [ arz.22068@gmail.com ]
        Bogor, 10 Mei 2009H / 15 Jumadil Ula 1430M
MENGENAL MADU ASLI & PALSU
…dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan
(QS.An-Nahl : 69)

 Anggapan Umum & Tanggapannya
1.    Madu Asli, tidak dikerubungi oleh semut. Sedangkan Madu Palsu, dikerubungi oleh semut
Penjelasan & Tanggapan :
Anggapan ini tidak benar karena madu yang dihasilkan tergantung dari sari madu yang di ambil oleh si lebah tersebut, contoh : apabila lebah tersebut mengambil sari madu dari bunga sepatu atau rambutan, maka madu yang dihasilkan oleh lebah tersebut akan dikerubungi semut dikarenakan rasanya yang manis. Sedangkan apabila lebah tersebut mengambil sari madu dari bunga sambiloto, pasti semut tidak akan mengerubungi madu tersebut karena madu yang dihasilkan rasanya tidak disenangi semut.

2.    Madu Asli, apabila kemasan botolnya dibuka, maka akan meletup. Sedangkan Madu Palsu, tidak meletup.
Penjelasan & Tanggapan :
Pemikiran ini salah, karena letupan tersebut merupakan hasil pemecahan oleh bakteri E-Coli terhadap senyawa H2O2 (Hidrogen per-oksida) yang berada didalam madu menjadi gas H2 dan O2. Apabila madu sudah menghasilkan gas tersebut, berarti sudah terkontaminasi oleh bakteri E-Coli dalam jumlah yang banyak, sehingga efek anti biotic yang terdapat didalam madu pun menjadi hilang yaitu senyawa H2O2 (antibiotic yang alamiah pada madu). Maka madu tersebut sudah layak untuk dikonsumsi.

3.    Jika korek api dicelupkan/dilumuri dengan Madu Asli, maka akan tetap menyala jika dinyalakan . Sedangkan dengan Madu Palsu, tidak bisa menyala
Penjelasan & Tanggapan :
Teori ini tidak tepat. Sebab madu yang dihasilkan oelh lebah itu tergantung dari segi musim yang sedang berlangsung disaat itu. Untuk standar SNI, kadar air dalam madu tidak boleh lebih dari 20%. Apabila lebih dari dari 20%, maka madu tersebut dinyatakan tidak baik. Contoh : apabila musim hujan, maka kadar air yang terkandung didalam madu tersebut kan tinggi, sehingga korek api tidak mungkin akan bisa dinyalakan karena mngandung air. Namun jika lebah memproduksi madu di saat musim kemarau, maka kadar air yang terkadung dalam madu akan jauh lebih sedikit, sehingga korek api  akan lebih memungkinkan untuk menyala karena sedikitnya kadar air pada madu tersebut.

4.    Jika telur dimasukkan ke dalam Madu Asli, maka telur tersebut akan matang. Sedangkan Madu Palsu, tidak matang
Penjelasan & Tanggapan :
Ilmu mengenai uji klinis ini tidak tepat. Karena sesungguhnya madu yang dapat membuat telur menjadi matang jika disatukan dengannya itu berarti madu tersebut telah melalui proses fermantasi yang mengakibatkan efek panas. Sehingga telur menjadi menggumpal akibat efek panas tersebut. Berarti madu tersebut sudah tidak layal untuk dikonsumsi.

5.    Madu Asli, tidak mengkristal/beku di dalam kulkas. Sedangkan Madu Palsu akan mengkristal/beku
Penjelasan & Tanggapan :
Teori ini hampir sama dengan uji klinis pada nomor 3. Maka, jika madu dengan kandungan air cukup banyak ditaruh didalam kulkas, madu tersebut akan mengkristal. Oleh karena itu sangat tidak dianjurkan menaruh madu didalam kulkas. Namun apabila sudah mengkristal, ada cara untuk mencairkannya kembali, yaitu masaklah air didalam panic hingga mendidih, lalu matikan apinya, buka tutup pancinya sebentar, baru taruhlah madu yang mengkristal tersebut ke dalam panci

Cara Mengetes Madu Asli
1.    Uji Tetes / Tuang
Siapkan air didalam gelas bening, lalu tuang madu ke dalam gelas. Setelah itu lihat dengan seksama bagaimana madu tersebut sampai ke dalam gelas. Untuk madu asli, ia akan langsung sampai ke dasar gelas. Sedangkan, madu palsu/dicampur pemanis buatan, akan terjadi pemencaran cairan sebelum sampai ke dasar gelas, seperti sirup yang dimasukkan ke dalam air. Hal ini dikarenakan madu mengandung banyak enzim, sehingga terjadi ikatan yang sangat kuat dan tidak pendar apabila dituang ke dalam air, lain halnya dengan madu palsu/dicampur yang tidak ada unsur enzimnya.

2.    Uji Cawan Petri / Goyang
Siapkan cawan yang dasarnya pipih dan agak lebar yang telah diberi air hangat, tuangkan madu ke dalamnya lalu goyangkan. Maka madu yang asli akan membentuk suatu bentuk heksagonal (segi enam) karena madu tersebut mengadung ikatan enzim sehingga antar komponen madu tidak terpisah.

3.    Uji Bakar
Madu ali ketika dibakar tidak akan berubah warna, tidk berubah rasa dan berbusa, tetapi busa ini akan cepat hilang ketika api dimatikan. Sedangkan apabila sebuah madu gosong dan baunya berubah saat dibakar, berarti madu itu palsu karena ditambahkan unsur / zat lain seperti gula merah.

4.    Cek PH Indikator
Madu yang baik bersifat asam yang memiliki kadar PH 3-4.

(dr.Agus Rahmadi, Direktur Klinik Sehat)

Sumber : Pamflet “Madu Sehat” Produk Klinik Sehat

FUTUR (Bosan/Bete)


MAKNA
Secara bahasa :
1. berhenti/terputus dari rutinitas atau stagnan dari aktifitas
2. malas atau berleha-leha/lambat setelah sebelumnya giat, semangat dan bersungguh-sungguh.
Secara istilah : penyakit yang bisa saja menjangkiti diri seorang aktifis/penggerak dan dalam pergerakkannya, dampak yang paling ringan : sifat malas, berleha-leha dan lambat, sedangkan yang paling parah : berhenti / diam dari berbagai aktifitas rutin dan dakwah selamanya

SEBAB
- Terlalu berlebihan dan ekstrim dalam beragama, sehingga ada hak dan kewajiban yang terabaikan
- Berlebihan dan melampaui batas dalam melakukan hal-hal yang mubah
- Meninggalkan jama’ah kaum muslimin dan lebih memilih ‘uzlah (hidup menyendiri)
- Kurang dzikrul maut (mengingat kematian) dan kurang mengingat akhirat
- Meninggalkan amalan-amalan harian (siang&malam) seorang muslim ataupun berkurang kualitas & kuantitasnya
- Mengkonsumsi makanan dan miniman yang haram dan syubhat
- Hanya memfokuskan diri ke dalam satu aspek saja dari ajaran islam dan mengabaikan yang lain
- Tidak memperhatikan sunnah alam dan  kehidupan yang Allah tentukan
- Mengabaikan hak badan dikarenakan amanah yang diemban terlalu berat, kewajiban banyak dan sedikit penggeraknya
- Tidak mempersiapkan diri untuk menghadap tantangan dan halangan
- Bersahabat dengan orang yang lemah obsesi dan motivasinya
- Spontanitas dalam beramal
- Terjerembab dalam kemaksiatan dan dosa, baik yang kecil maupun besar dan meremehkannya

AKIBAT/DAMPAK
1. Terhadap diri sendiri : sedikitnya bekal ketaatan
2. Terhadap jama’ah : merupakan sunnatullah bahwa Allah tidak akan memberi kemenangan dan kejayaan bagi orang malas, lalai dan future, karena jalan dakwah adalah jalan panjang, butuh banyak kewajiban dan pengorbanan

SOLUSI/PENGOBATAN
- Menjauhi maksiat dan perbuatan buruk /dosa, yang besar maupun kecil
- Membiasakan diri melakukan amaliyah yaumiyyah (amalan harian) siang dan malam
- Memamnfaat waktu untuk diisi dengan ketaatan kepada allah
- Melepaskan diri dari sifat ekstrimis dan berlebihan dalam menjalankan agama allah
- Berbaur dan bergabung ke dalam jama’ah umat islam
- Perhatian terhadap ketentuan Allah yang berlaku pada manusia dan alam semesta
- Menghindari dari awal segala tantangan yang menghadang sampai keadaan siap menghadapinya
- Membuat kegiatan/aktifitas yang terperinci dan terprogram dengan baik
- Berteman dengan orang-orang shalih dan para pejuang dijalan Allah
- Memberikan hak badan secara proporsional seperti : istirahat, makan, minum dan olahraga
- Me-refresh tubuh dengan kegiatan yang menyenangkan seperti beramain dengan keluarga, rihlah, tadabbur/tafakkur alam, olahraga, naik gunung, dsb
- Membiasakan diri untuk senantiasa membaca buku-buku siroh, sejarah dan biografi orang-orang shalih dan para pejuang dijalan Allah, karena mereka mempunyai semangat dan motivasi diri yang kuat
- Dzikrul maut (mengingat kematian) dan segala kejadian dalam kehidupan setelah kematian
- Mengingat surga dan neraka, dengan segala kenikmatan dan kesengsaraannya
- Menghadiri majlis ilmu (senantiasa menuntut ilmu)
- Memahami islam dengan pemahaman yang benar, sempurna, integral dan komprenhesif, tidak parsial
- Muhasabah(evaluasi) diri

Jumat, 23 September 2011

Al-Israf (Berlebih-lebihan)

Makna Israf
Secara bahasa : apa-apa yang digunakan untuk diluar ketaatan, sifat mubadzir, melampaui batas
Secara istilah : melebihi batas ideal/kewajaran dalam hal makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, bermain, becanda, bekerja, istirahat, dsb

Sebab Israf
- Dibesarkan dengan lingkungan yang terbiasa dengan israf (berlebihan/mubadzir)
- Keluangan setelah kesibukan dan kesejahteraan setelah kesusahan
- Berteman dengan orang yang terbiasa berlebihan/mubadzir
- Lalai dari ketaatan kepada Allah
- Fitnah(ujian) istri dan anak
- Lalai dari tabiat kehidupan dunia, kadang diberi kekayaan dan kadang diberi kesusahan
- Memanjakan diri dan meremehkan akibat dari mengikuti hawa nafsu
- Lalai dari mengingat kedahsyatan peristiwa hari kiamat
- Sifat lupa
- Lalai dari mengingat dampak yang dihasilkan dari sifat berlebihan

Dampak Sifat Israf
- Badan menjadi sakit
- Hati menjadi keras dan mati
- Pikiran menjadi beku
- Menimbulkan potensi keburukan dan dosa
- Stres ketika di uji dengan ke-tiada-an dan kesusahan
- Tidak peduli dengan orang lain, cuek, egois
- Bermasalah ketika ditanya Allah pada hari kiamat
- Menjadi temannya syetan
- Terjerumus ke dalam pencarian rizki yang haram
- Terhalang untuk dicintai Allah

Solusi Untuk Terbebas Dari Sifat Israf
-       Memikirkan dampak dan akibat dari sifat israf (berlebihan)
-       Mengendalikan hawa nafsu & berusaha memimpin diri sendiri
-       Senantiasa mengikuti sunnah rosulullah, mempelajari sirohnya dan mengambil ibroh darinya
-       Membiasakan diri mempelajari dan mengambil ibroh dari sejarah salafusshalih (orang-orang shalih terdahulu) yaitu : para sahabat, tabi’, tabi’it tabi’in, ulama, pejuang islam, dsb
-       Memutuskan hubungan dengan orang-orang yang terbiasa israf
-       Fokus & perhatian dalam pembinaan keluarga : istri dan anak untuk memiliki kepribadian yang islami
-       Senantiasa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi
-       Senantiasa mengingat kematian (dzikrul maut)
-       Mengingat bahwa ini adalah bagian dari ujian kehidupan

Kamis, 22 September 2011

Nasihat Imam Syafi'i ... Merantaulah!

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman . Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang . Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman .Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan .Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia kan keruh menggenang . Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang . Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran . Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam . Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang . Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman . Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang . Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang . Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan.
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan . Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.


(Al-imam asy-Syafi’i)
https://dodoy2.wordpress.com/2011/01/14/merantaulah-nasihat-imam-syafii/